skip to Main Content

Potret Rencana Penganggaran Direktorat ITKAK Tahun 2021 Dalam Rangka Pemulihan dan Pengembangan Industri Tekstil, Kulit dan Alas Kaki Dilihat Dari Sudut Pandang Daya Saing diamond porter

Oleh : Andi Susanto

Fungsional Analis Anggaran Ahli MudaDirektorat Industri Tekstil, Kulit dan Alas Kaki

Industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) adalah Salah satu kelompok industri pengolahan yang dikategorikan sebagai industri strategis dan prioritas Nasional sesuai dengan Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN). Industri ini menjadi penghasil devisa dengan perkiraan nilai ekspor pada tahun 2020 sebesar US$ 10,55 miliar dan menyerap tenaga kerja sejumlah 3,43 juta orang. Sedangkan produk alas kaki, kulit dan barang jadi kulit nilai ekspornya mencapai USD 5,42 M dengan penyerapan tenaga kerja 700 ribu orang.

Pandemi Covid-19 yang saat ini masih berlangsung dengan varian yang semakin menular diseluruh dunia, selain berdampak terhadap kesehatan juga berdampak sangat besar terhadap beberapa industri. Salah satu industri yang terdampak cukup berat/hard hit adalah industri tekstil dan produk tekstil yang ditandai dengan penurunan laju pertumbuhan industri yang selama ini mengalami tren positif, bahkan mengalami pertumbuhan tertinggi pada tahun 2019 sebesar 15,35% terkontraksi dengan adanya pandemi covid-19 menjadi -8,37% sampai dengan Tw III 2020. Namun demikian pertumbuhan di triwulan III ini sudah lebih baik bila dibandingkan dengan kondisi awal pandemi yang ditandai dengan pertumbuhan positif 2,97% dari sebelumnya 0,48% pada Tw I dan -8,72 pada Tw II 2020. Ekspor tekstil dan pakaian jadi sampai dengan Oktober 2020 juga mengalami penurunan masing-masing -24,2% untuk tekstil dan -15,2% untuk pakaia jadi, walaupun disisi lain impor juga mengalami penurunan masing-masing -24,6 dan -25,2%. Apabila dilihat dari komposisi ekspornya, pakaian jadi memiliki porsi paling besar yaitu 67% diikuti benang 11,3%. Sedangkan dari impornya kain menjadi penyumbang impor terbesar dengan share 45,6% terhadap total impor TPT.  Kinerja Investasi pada industri tekstil dan pakaian jadi walaupun dalam kondisi pandemi masih cukup baik, bahkan sampai dengan triwulan III 2020 investasi pada industri pakaian jadi lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2019 yaitu Rp 1,5 triliun dari sebelumnya Rp 1,23 triliun. Sedangkan untuk industri alas kaki juga mengalami penurunan laju pertumbuhan industri menjadi -8,76% (YoY) serta kontribusi terhadap PDB nasional  sebesar 0,25% pada tahun 2020. Ekspor TPT pada tahun 2020 justru mengalami peningkatan sebesar 5,74% menjadi USD 5,42 miliar.

Kementerian Perindustrian selaku pengampu target dalam pengembangan industri memfokuskan anggaran salah satunya kepada kelompok industri prioritas ini. Pengembangan dan pembangunan industri tekstil, kulit dan alas kaki dilakukan dan di anggarkan pada Direktorat Industri Tekstil, Kulit dan Alas Kaki.

Fokus Anggaran Pembangunan 2021

Fokus Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2021 adalah untuk mendukung percepatan pemulihan ekonomi dan penguatan reformasi dengan fokus belanja negara sebesar Rp 2.750 triliun, terutama untuk belanja yang bertujuan untuk melanjutkan program penanganan Covid-19 dan juga terutama untuk vaksinasi, program perlindungan sosial dan program untuk membantu sektoral serta daerah untuk pulih dari Covid-19. Anggaran ini tersebar dibeberapa bidang yaitu untuk bidang pendidikan mencapai Rp 550 triliun, untuk kesehatan Rp 169,7 triliun, untuk program perlindungan sosial Rp 408,8 triliun, untuk infrastruktur akan meningkat kembali ke Rp 417,4 triliun, untuk bidang ketahanan pangan Rp 99 triliun, pariwisata Rp 14,2 triliun, dan bidang untuk pembangunan TIK mencapai Rp26 triliun.

Dalam APBN tahun 2021 mendatang, pemerintah telah menentukan empat fokus kebijakan yaitu :

  • Penanganan kesehatan

Dalam hal ini, penanganan kesehatan menitikberatkan pada vaksinasi COVID-19. Selain itu, anggaran juga akan dialokasikan untuk penguatan sarana dan prasarana kesehatan, aboratorium penelitian dan pengembangan yang sangat diperlukan.

  • Perlindungan sosial

Pemerintah akan fokus pada kebijakan perlindungan sosial khususnya kelompok rentan dan kurang mampu.

  • Pemulihan ekonomi

Pemulihan ekonomi dialokasikan dalam bentuk pemberian dukungan yang lebih besar untuk dunia usaha, sektor usaha mikro, kecil, dan menengah.

  • Reformasi struktural

Pemerintah akan membangun fondasi yang lebih kuat melalui reformasi struktural bidang kesehatan, pendidikan, perlindungan sosial, dsb.

Belanja negara dalam APBN tahun 2021 sejumlah Rp2.750,0 triliun dialokasikan untuk Belanja Pemerintah Pusat sebesar Rp1.954,5 triliun serta Transfer ke Daerah dan Dana Desa sebesar Rp795,5 triliun.

Fokus Anggaran Pembangunan Industri di Kementerian Perindustrian

Kementerian Perindustrian memperoleh pagu anggaran untuk tahun 2021 sebesar Rp3,18 triliun. Rincian pagu anggaran yang disetujui tersebut difokuskan pada empat program antara lain, pendidikan dan pelatihan vokasi sebesar Rp962 miliar, program riset inovasi ilmu pengetahuan dan teknologi sebesar Rp112,3 miliar, program nilai tambah dan daya saing industri sebesar Rp663,3 miliar, serta dukungan manajemen sebesar Rp1,4 triliun.

Pada tahun anggaran 2021, Kemenperin mengalokasikan program nilai tambah dan daya saing industri dan menetapkan fokus pengembangan kegiatan prioritas nasional tahun 2021 pada tiap-tiap sektor manufaktur dengan rincian sebagai berikut :

  1. Industri agro, dengan prioritas utama penyusunan business plan, studi kelayakan dan detail enginering design (DED) industrial vegetable oil/industrial lauric oil sebagai bahan baku industri green fuel atau B100.
  2. Industri kimia farmasi dan tekstil, dengan prioritas program mendorong pelaksanaan Making Indonesia 4.0 di sektor industri kimia hulu untuk satu rekomendasi kebijakan, fasilitasi pengembangan industri petrokimia di Teluk Bintuni, dan penyusunan satu rekomendasi kebijakan penumbuhan dan pengembangan industri garam industri. Percepatan substitusi impor bahan baku industri semen keramik dan pengolahan bahan galian nonlogam, serta pemulihan industri sektor padat karya tekstil dan alas kaki
  3. Industri logam, mesin, alat transportasi dan elektronika (ILMATE), menitikberatkan pada beberapa fokus utama mendorong implementasi industri 4.0 pada sektor otomotif, elektronika dan telematika, serta sektor industri permesinan dan alat mesin pertanian.
  4. Industri Kecil Menengah dan Aneka (IKMA), fokus pada peningkatan kemampuan sentra IKM, penumbuhan dan pengembangan wirausaha industri dengan target 1.650 IKM, penerapan sertifikasi produk dan penguatan mesin dan peralatan untuk 5028 IKM, serta layanan hak kekayaan intelektual, desain dan kemasan.
  5. Upaya peningkatan investasi dan operasional lima kawasan industri (KI) prioritas di luar Jawa, penyusunan rekomendasi penyelesaian hambatan ekspor impor, serta penyusunan rekomendasi pengembangan investasi bahan baku industri substitusi impor.

Peran Pemerintah dalam Pembangunan berdasarkan Teori Daya Saing Berlian Porter

Porter dalam bukunya The Competitive Advantage of Nation, 1990 mengemukakan tentang tidak adanya korelasi langsung antar dua faktor produksi (sumber daya alam yang melimpah dan sumber daya manusia yang murah) yang dimiliki suatu negara, yang dimanfaatkan sebagai keunggulan daya saing dalam perdagangan internasional. Banyak negara di dunia yang jumlah tenaga kerjanya sangat besar yang proporsional dengan luas negerinya, tetapi terbelakang dalam daya saing perdagangan internasional. Begitu juga dengan tingkat upah relatif murah dari pada negara lain, justru berkorelasi erat dengan rendahnya motivasi bekerja keras dan berprestasi. Porter menyebutkan bahwa peran pemerintah sangat penting dalam peningkatan daya saing selain faktor produksi. Pemerintah memainkan peran sentral dalam pembentukan keunggulan kompetitif, contoh kebijakannya adalah antitrust, regulasi, deregulasi, dan kondisi konsumen.

Porter (1990) mengembangkan model yang dikenal sebagai model berlian, tujuan utama dari penelitian porter adalah menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi keunggulan kompetitif dari perusahaan, beberapa industri atau segmen tertentu. Dalam model berlian dijelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi keunggulan kompetitif dari industri di suatu negara secara internasional terdiri dari faktor kondisi, faktor permintaan, industri terkait dan industri pendukung, serta strategi perusahaan, struktur dan persaingan. Terdapat juga dua faktor yaitu Pemerintah dan Kesempatan yang mempengaruhi lingkungan dengan tidak langsung, keenam faktor ini mempengaruhi juga saling mempengaruhi seperti ditunjukkan pada Gambar berikut :

Porter’s Diamond

Penjelasan tentang faktor-faktor yang berpengaruh terhadap daya saing dalam Gambar 6 adalah sebagai berikut:

  1. Kondisi faktor

Kondisi faktor berisi faktor-faktor produksi yang ada dalam industri itu sendiri. Porter membagi kondisi faktor menjadi:

  1. Faktor sumber daya manusia, yang terdiri dari jumlah tenaga kerja yang tersedia, ketrampilan yang dimiliki oleh tenaga kerja, tingkat upah, dan modal kerja.
  2. Faktor sumber daya fisik atau alam, yaitu ketersediaan, mutu, jumlah, harga lahan, air, mineral, dan sumber daya yang lain.
  3. Faktor sumber daya ilmu pengetahuan dan teknologi, yaitu adanya penduduk yang signifikan dengan pengetahuan, teknologi serta pengetahuan yang berkaitan dengan pemasaran.
  4. Faktor sumber daya infrastruktur, meliputi ketersediaan jenis, mutu, dan biaya penggunaan infrastruktur yang mempengaruhi persaingan. Termasuk sistem sistem perbankan, sistem perawatan kesehatan, sistem transportasi, sistem komunikasi, serta ketersediaan serta biaya untuk menggunakan berbagai sistem tersebut.

Faktor kondisi dibagi menjadi dua yaitu basic dan advanced factors. Basic factors contohnya adalah sumber daya alam, iklim, lokasi, tenaga kerja yang terampil dan tidak terampil, dan lainnya yang dapat diciptakan dengan cara yang sederhana dengan investasi murah. Advanced factors contohnya data digital, infrastruktur komunikasi, universitas atau lembaga penelitian lebih sulit diciptakan dan membutuhkan investasi yang yang besar dan berkelanjutan dan membutuhkan lembaga yang sesuai.

Keunggulan kompetitif dapat juga diperoleh dengan seleksi faktor disadvantages, menghadapi faktor-faktor ketidakunggulan industri menciptakan inovasi untuk memperoleh atau meningkatkan posisi kompetitif. Dalam prosesnya penggunaan teknologi baru, penggunaan metode baru dalam menghadapi permasalahan, perpaduan, yang dapat mendukung peningkatan keunggulan kompetitif.

  • Kondisi permintaan

Kondisi permintaan mempunyai peranan yang sangat penting bagi keunggulan kompetitif negara tersebut, karena:

  1. Kondisi permintaan di negara sendiri menentukan bagaimana perusahaan menerima, menginterpretasikan, dan memberi reaksi pada kebutuhan pembeli.
  2. Jumlah permintaan dan pola pertumbuhan permintaan di negara sendiri merupakan hal yang penting jika permintaan di dalam negeri dapat dipenuhi dan dapat mengantisipasi permintaan dari luar negeri.
  3. Pertumbuhan pasar dalam negeri yang cepat merupakan pendorong investasi yang nantinya akan menimbulkan proses alih teknologi yang lebih cepat dan pembangunan fasilitas yang besar dan efisien.
  4. Cara produk dan jasa dari suatu negara diterima oleh pasar luar negeri.
  • Strategi dan struktur persaingan

Persaingan dalam negeri mendorong perusahaan untuk mengembangkan produk baru, memperbaiki produk yang telah ada, menurunkan harga dan biaya, mengembangkan teknologi baru, dan memperbaiki mutu serta pelayanan. Pada akhirnya, persaingan di dalam negeri yang kuat akan mendorong perusahaan untuk mencari pasar internasional. Perekonomian global akan menyebabkan terjadinya saling ketergantungan antar bangsa. Masing-masing bangsa membangun perekonomiannya berdasarkan kekayaan yang dimiliki yang merupakan keunggulan komparatifnya. Namun, keberhasilan pembangunan tersebut lebih ditentukan pada keunggulan kompetitifnya dikarenakan adanya pesaing-pesaing yang dekat, yaitu negara lain yang membangun keunggulan perekonomian mereka di sektor/jenis industri yang sama dengan strategi serupa.

  • Industri terkait dan pendukung

Hubungan dengan industri terkait dan pendukung  perlu dijaga dan dipelihara agar tetap dapat mendukung keunggulan bersaing. Untuk itu perlu dijaga hubungan dan koordinasi dengan para pemasok, khususnya untuk menjaga dan memelihara rantai nilai.

  • Pemerintah

Pemerintah tidak menentukan tetapi merupakan pengaruh penting atas faktor penentu. Secara tidak langsung pemerintah dapat mempengaruhi permintaan melalui kebijakan moneter dan keuangan. Sedangkan peran pemerintah secara langsung adalah dengan bertindak sebagai pembeli produk dan jasa. Pemerintah juga dapat mempengaruhi berbagai sumber daya yang tersedia, berperan sebagai pembuat kebijakan yang menyangkut tenaga kerja, pendidikan, pembentukan modal, sumber daya alam dan standar produk. Pemerintah mempengaruhi persaingan dan lingkungan bersaing dengan perannya sebagai pengatur perdagangan. Selain hal tersebut, pemerintah juga dapat memegang peranan dalam kemudahan akses dalam birokrasi dan juga dalam perbaikan kualitas infrastruktur. Dengan memperkuat faktor penentu dalam industri, pemerintah memperbaiki posisi bersaing dari perusahaan di negera itu. Dalam hal ini, keunggulan kompetitif dapat diciptakan antara lain melalui implementasi kebijakan pemerintah sehingga dapat tercipta efisiensi penggunaan sumberdaya.

  • Kesempatan

Kesempatan dapat didefinisikan sebagai suatu arena yang didalamnya suatu bangsa dapat menciptakan atau memperoleh kekayaan tambahan. Peluang memainkan peranan dalam membentuk lingkungan bersaing karena peluang merupakan peristiwa yang terjadi di luar kendali perusahaan, industri, dan pemerintah, seperti perang, pasca perang, terobosan besar dalam teknologi, pergeseran dramatik yang tiba-tiba terjadi dalam biaya faktor atau biaya masukan, seperti krisis minyak, atau perubahan dramatis dalam kurs mata uang.

Fokus Anggaran Pemulihan dan Pengembangan Industri Tekstil, Kulit dan Alas Kaki 2021

Senada dengan arahan Bapak Presiden RI dan arah kebijakan penganggaran secara nasional maupun  Kementerian Perindustrian yang berfokus salah satunya kepada pemulihan ekonomi nasional  yang dialokasikan dalam bentuk pemberian dukungan yang lebih besar untuk dunia usaha, sektor usaha mikro, kecil, dan menengah, serta dengan memperhatikan bagaimana industri dapat meningkat atau pulih daya saingnya sesuai teori berlian porter maka pada direktorat industri tekstil, kulit dan alas kaki kebijakan penganggaran tahun 2021 juga mengacu pada hal-hal tersebut, adapun rincian anggaran Tahun 2021 adalah sebagai berikut :

  • Peningkatan Kompetensi SDM Industri Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki melalui kegiatan penyusunan RSKKNI & Perusahaan APD dan masker yang mengikuti bimtek dan lulus sertifikasi ISO 13486 :2016 dengan target 2 RSKKNI dan 10 perusahaan adapun anggaran yang dialokasikan untuk kegiatan ini adalah Rp. 2.126.300.000, – dengan detail kegiatan :
    • Rancangan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (RSKKNI) Industri Tekstil dan Pakaian Jadi dengan alokasi anggaran Rp. 345.400.000,-
    • Menyusun Rancangan Standar Kompetensi Kerja Nasional (RSKKNI) Industri Kulit dan Alas Kaki dengan alokasi anggaran Rp. 519.100.000,-
    • Melaksanakan Bimbingan Teknis dan Sertifikasi Pengelolaan Manajemen dengan alokasi anggaran Rp. 1.261.800.000,-
  • Peningkatan dan Pemanfaatan Teknologi dan Inovasi Industri Kimia, Farmasi dan Tekstil melalui kegiatan Restrukturisasi Mesin dan Peralatan Industri Tekstil, Kulit dan Alas Kaki dengan target 10 perusahaan adapun alokasi anggaran yang disiapkan adalah Rp. 7.500.000.000, – dengan detail kegiatan :
    • Potongan Harga Program Restrukturisasi sebesar Rp. 6.000.000.000, –
    • Kegiatan Pendukung berupa sosialisasi kepada pelaku usaha, lembaga verifikasi dokumen dan verifikasi lapangan serta biaya pembahasa rapat teknis sebesar Rp 1.500.000.000,-
  • Pengembangan Standar Nasional Indonesia (RSNI) industri tekstil, kulit dan alas kaki dengan target 6 RSNI adapun alokasi anggaran yang disiapkan adalah Rp. 1.800.000.000, – dengan detail kegiatan :
    • Menyusun Rancangan Standar Nasional Indonesia (RSNI) dan SNI Wajib Industri Tekstil dan Pakaian Jadi sebesar Rp 900.000.000,-
    • Menyusun Rancangan Standar Nasional Indonesia (RSNI) Industri Kulit dan Alas Kaki sebesar Rp 900.000.000,-
    • Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri Industri, Kimia, Farmasi dan Tekstil dengan target 1 Merek dan 3 Pameran adapun alokasi anggaran yang disiapkan adalah Rp. 1.250.000.000, –
  • Penyediaan Kebijakan Fiskal dan Non Fiskal Industri Tekstil, Kulit dan Alas Kaki melalui Rekomendasi Kebijakan Fiskal dan Non Fiskal Industri Tekstil, Kulit dan Alas Kaki dengan target 2 rekomendasi adapun alokasi anggaran yang disiapkan adalah Rp. 1.800.000.000, – dengan detail kegiatan :
    • Fasiltasi penyelesaian permasalahan peningkatan daya saing Rp. 909.000.000, –
    • Penyelesaian Permasalahan Iklim Usaha dan Investasi sebesar Rp 890.028.000,-
  • Pelaksanaan Peta Jalan Revolusi Industry 4.0 Industri tekstil, kulit dan alas kaki dengan target 100 perusahaan adapun alokasi anggaran yang disiapkan adalah Rp. 7.673.700.000, – dengan detail kegiatan :
    • Penyusunan Alur Aliran Material Sektor Tekstil dan Busana sebesar Rp. 3.879.295.000, –
    • Pelaksanaan Pilot Project Industri 4.0 Sektor Tekstil dan Busana sebesar Rp 3.794.405.000,-
  • Pengelolaan Manajemen Kesekretariatan Bidang Industri Kimia, Farmasi dan Tekstil  sebesar Rp 800.000.000,-
Back To Top